Pelajaran Berharga dari Gempa dan Tsunami di Jepang

Apa yang dapat dipelajari dari Gempa dan Tsunami Honshu?

Sampai tulisan ini dituliskan, jumlah korban tewas akibat gempa dan tsunami Honshu, Jepang yang terjadi pada hari Jumat 11 Maret 2011 jam 12.46 WIBB, berkisar 400-450 orang. Karena diliput secara langsung oleh media televisi internasional, kita melihat betapa ganasnya gempa dan tsunami yang terjadi.


Lalu, timbul pertanyaan, kenapa jumlah korban begitu kecilnya? Bukan berarti penulis berharap akan tingginya jumlah korban. Akan tetapi, belajar dari bencana-bencana gempa dan tsunami yang terjadi di tanah air dan negeri lain, jumlah korban di Jepang bisa dikatakan sangat sedikit.

Ada tiga hal yang menurut penulis yang perlu ditiru dari Jepang bagaimana meminimalkan korban dalam suatu bencana

Kesadaran Selalu Waspada terhadap Bencana

Orang Jepang memang sudah terbiasa dengan bencana, terutama gempa dan tsunami. Negeri ini berada di daerah pertemuan empat lempeng tektonik aktif di bumi ini. Akibatnya hidup dengan gempa sudah menjadi keadaan yang ‘harus’ diterima dan menjadi keseharian di negara ini. Boleh dikatakan, di Jepang, hampir sama dengan Indonesia, setiap hari selalu terjadi gempa, walau mungkin besar magnitudenya sangat kecil, dan hanya bisa dirasakan oleh orang yang sangat sensitif.

Warga dan pemerintah Jepang sangat menyadari bahaya gempa yang sewaktu-waktu bisa menimpa mereka. Kearifan lokal, seperti  tetap diam di dalam gedung dan merunduk di bawah meja dengan melindungi kepala dengan bantal dibanding langsung berlari ke luar gedung sudah menjadi standar kalau terjadi gempa. Dan jika sebuah gempa kuat sudah berhenti, langsung berlari sejauh mungkin ke tempat yang lebih tinggi  sudah menjadi sifat orang Jepang. Dan kemudian, rumah yang lebih kuat sudah pasti ebih aman terhadap gempa, tertanam dalam benak sanubari mereka.

Di jaman modern ini mungkin tidak ada negara seperti Jepang yang selalu waspada terhadap gempa. Sudah menjadi sebuah standar di Jepang bahwa semua penduduk harus memiliki pengetahuan standar tentang tanggap bencana.

Anak sekolah harus diajari bagaimana menghadapi bencana gempa dan tsunami. Hal ini dimasukkan dalam kurikulum sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Demikian juga, komunitas-komunitas masyarakat dan kaum professional diberikan pengetahuan mengenai tanggap bencana. Misalnya, di setiap sekolah dan  perkantoran, setiap 3- 6 bulan dilakukan simulasi rutin  tanggap bahaya bencana seperti kebakaran dan bencana lainnya.

Seorang wanita memperhatikan peta untuk menemukan jalan alternatif setelah kereta api dan semua perjalanan subway dihentikan segera setelah gempa. Source: http://inapcache.boston.com/universal/site_graphics/blogs/bigpicture/quake1/bp30.jpg

Petunjuk mengenai tanggap bencana disajikan dalam buku penduduk yang dibagikan secara gratis kepada tiap warga. Di buku tersebut terdapat panduan apa saja yang harus dilakukan sebelum, selama, dan setelah gempa. Panduan sangat senderhana, padat, dan mduah dipahami.

Misalnya, sebelum gempa diberikan juga petunjuk agar setiap penduduk memiliki ransel yang berisi minuman dan obat-obatan yang secara rutin haruslah diperbaharui isinya. Setelah gempa besar terjadi ada potensi tsunami, di dalam buku sudah ada petunjuk-petunjuk tentang lokasi-lokasi pengungsian terdekat yang aman dan  dapat dicapai dalam waktu singkat. Biasanya sekolah, lapangan terbuka, dan rumah sakit sudah didesain sedemikian rupa menjadi tempat pengungsian, dimana kebutuhan pokok hidup seperti air bersih pasti tersedia disana. Penduduk juga diberikan lokasi untuk mendengarkan radio untuk update bencana.

Pemerintah Membuat Peraturan

Jepang, karena sudah mengalami banyak bencana, dan mau belajar dari bencana tersebut. Mereka mendokumentasikan semua pelajaran berharga dan kemudian dibuat sebagai bahan perbaikan tanggap bencana yang sudah ada.

Gempa Kobe tahun 1995, – yang meluluhlantakkan kota Kobe dan menewaskan sekitar 7000 orang -,  boleh dikatakan menjadi titik yang sangat penting bagaimana Jepang memperbaiki manajemen krisis gempa. Dibentuk Kementerian Negara Urusan Bencana. Kementerian inilah yang menjadi pelaksana teknis Dewan Pusat Penanganan Bencana yang didukung oleh 37 badan publik, mulai dari badan meteorologi, badan penyiaran, perusahaan gas, perusahaan telepon, dan lain-lain.

Respon cepat dari tim kesehatan tanggap bencana Jepang setelah adanya laporan korban luka di Tokyo. Source: http://inapcache.boston.com/universal/site_graphics/blogs/bigpicture/quake1/bp24.jpg

Jadi jangan heran, ketika bencana terjadi semua badan penyiaran yang ada di Jepang langsung menghentikan siarannya dan langsung memberitakan tanggap bencana. Radio-radio dan televisi mengumumkan update gempa dan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam menghadapi gempa dan potensi ancaman yang mengikutinya.

Penumpang di Stasiun Kereta Api Shinagawa, Tokyo, mendengar berita dari tangan pertama tentang bencana gempa dan potensi tsunami. Source: http://media.kansascity.com/smedia/2011/03/11/14/4-693CORRECTION_Japan_Earthquake.sff.standalone.prod_affiliate.81.jpg

Dan satu lagi, dalam membuat rencana tanggap gempa, pemerintah mengajak pemerintah lokal untuk memberikan masukan-masukan. Pemerintah lokal meminta masukan-masukan dari masyarakat. Tanggap bencana untuk tiap daerah mungkin saja berbeda-beda, contohnya dimana lokasi dan tempat-tempat pengungsian yang aman berbeda untuk tiap-tiap daerah. Oleh karena itu tanggap bencana dibuat sangat membumi dan ‘sangat lokal’, sehingga penduduk dengan mudah dapat mengerti.

Pemerintah Jepang membuat peraturan-peraturan  dan standar bagaimana melakukan tindakan preventif dan apa yang harus dilakukan pada saat bencana. Memang sebuah peraturan tidak secara otomatis menjamin tidak adanya korban pada saat bencana, akan tetapi peraturan yang baik dan dijalankan baik oleh warga maupun pemerintah, bisa meminimilisasi korban jiwa dan kerugian harta benda.

Kejadian gempa, hingga saat ini memang susah untuk diprediksi, walau ilmu gempa bukan ilmu yang baru. Akan tetapi para ahli geologi dan ahli struktur secara terus mempelajari sifat kejadian dan bagaimana pengaruhnya kepada bangunan-bangunan.

Dari siaran televisi, kita bisa memperhatikan, gedung/rumah yang tersapu tsunami lebih banyak dibandingkan dengan gedung yang rubuh pada saat gempa. Jepang terkenal memiliki standar yang tinggi untuk desain dan pelaksanaan bangunan-bangunan konstruksi. Pembangunan gedung diatur sangat ketat oleh peraturan sehingga gedung  tersebut tahan gempa (baca: bukan anti-gempa). Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah, bangunan rumah atau gedung harus begitu kuat agar tahan terhadap gempa.

Sistem Peringatan Dini  yang Bagus

Di Jepang, hanya dibutuhkan waktu sekitar 2 menit untuk mengetahui apakah sebuah gempa  potensial untuk mengakibatkan tsunami. Sistem peringatan dini yang sangat hebat ini didapatkan dari rangkaian sebuah kerja keras dan kemajuan teknologi yang mengiringinya. Jadi, pada saat gempa Honshu sebesar M 8.9  terjadi, dua menit kemudian bunyi sirene sudah  meraung-raung untuk mengingatkan warga untuk segera mencari tempat yang lebih aman untuk menghindari  tsunami. Peringatan dini juga sudah terintegrasi dengan televisi, radio, dan internet, dimana berita terkini atau update potensi bencana terus diberikan oleh badan yang berwewenang.

Ingat, untuk gempa kali ini jarak terdekat dari daerah padat penduduk dengan lokasi gempa adalah sekitar 200 km. Menurut perkiraan tsunami membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit  untuk mencapai daratan. Dengan system peringatan dini tadi hampir semua warga sudah mengevakuasi dirinya dengan baik. Tahukah anda, bahwa daerah Sendai, yakni daerah yang paling parah diamuk tsunami berpenduduk hampir satu juta orang? Dan hebatnya jumlah korban hingga saat ini masih ratusan jiwa, dan itu di seluruh Jepang!

Jadi, mari kita petik pelajaran dari Jepang. Untuk masyarakat, selalulah waspada dan tanggap terhadap bencana. Selalu mematuhi peraturan-peraturan keselamatan dan prosedur tanggap bencana. Untuk pemerintah, buat dan tegakkanlah peraturan-peraturan untuk tindakan preventif bencana maupun pada saat dan setelah bencana.

Foto-foto terkait dapat dilihat di link berikut ini.

About Todung R Siagian

Bapak dari Juan, Mika, dan Jethro. Suami dari Theresia
This entry was posted in Langkah Tanggap Bencana, Tanggap Tsunami and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pelajaran Berharga dari Gempa dan Tsunami di Jepang

  1. Jepang bukan hanya menyadari mereka tinggal di daerah bencana, akan tetapi mereka sangat konsisten dan disiplin menjadikan waspada bencana sebagai bagian budaya mereka. Entah pelajaran apa lagi yg harus diberikan kepada Bangsa Indonesia, dengan korban yang demikian besar di Aceh, Padang, dan bencana gempa lainnya. Tapi sampai sekarang belum ada suatu keinginan untuk tanggap bencana seperti Jepang…..Tulisan menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s