Letusan Krakatau 27 Augustus 1883

Pendahuluan

Sekitar seratus dua puluh tahun yang lalu, pada tanggal 27 Augustus 1883, kepulauan vulkanik Krakatau, di Indonesia, yang merupakan sebuah kepulauan maya yang aktif secara vulkanik meletus dengan sangat dahsyat dan sangat merusak. Erupsi atau letusan ini merupakan salah satu bencana alam yang sangat dahsyat dalam sejarah bumi. Efeknya berpengaruh dalam skala global. Debu halusnya diterbangkan angin ketinggian hingga mencapai New York. Letusannya terdengar hingga 4800 km. Debu vulkanik naik dan tertiup di lapisan atas atmosfir dan mempengaruhi masuknya radiasi matahari dan cuaca bumi selama beberapa tahun.

Gambar Illustrasi Krakatau pada abad -19. Source: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/2a/Krakatoa_01.JPG

Gelombang  tsunami terbentuk secara berurutan yang ditimbulkan oleh letusan utama. Ketinggian tsunami bisa mencapai 40 m di atas muka laut, membunuh sekitar 36.000 orang yang tinggal di sepanjang pantai dan desa di sepanjang Selat Sunda di Jawa dan Kepulauan Sumatra. Gelombang tsunami juga dilaporkan di sepanjang Samudera Hindia, Samudera Pasifik, dan Pantai Barat Amerika, Amerika Selatan, dan bahkan mencapai Selat Inggris.

Lokasi dan Setting Geologi dari Krakatau.

Krakatau terletak di Selat Sunda, 40 km dari Pantai Barat Jawa dan berada di Kepulauan Rakata di Indonesia. Koordinat geografis Krakatau adalah 16.7 Lintang S dan 105.4 Bujur T. Krakatau merupakan salah satu dari gunung api di busur vulkanik Sunda. Gunung api ini dibentuk oleh subduksi lempeng India-Australia

Indonesia memiliki 130 gunung api aktif. Jumlah ini lebih banyak dari semua gunung api yang ada di negara lain di bumi. Gunung api ini berada di sepanjang garis sistem busur kepulauan Indonesia, yang diakibatkan oleh subduksi arah timur laut lempeng Hindia-Australia. Kebanyakan gunung api ini berada di sepanjang puncak busur topografi dua kepulauan besar, yakni Sumatra dan Jawa. Dua pulau ini dipisahkan oleh Selat Sunda, yang berlokasi di peralihan pelengkungan garis dari busur kepulauan vulkanik. Gunung api mendekati orientasi timur-barat di Jawa, dan orientasi barat laut-tenggara di Sumatra.

Krakatau adalah salah satu kepulauan vulkanik di Selat Sunda yang berada di atas patahan aktif arah utara-timur laut, yang orientasinya berbeda dengan kecenderungan arah busur kepulauan. Walau kelihatan kecil dibandingkan dengan gunung api terbesar di busur kepulauan, akan tetapi Krakatau dan gunung api yang berkaitan menunjukkan kapasitas untuk membuat ledakan yang sangat eksplosif

Letusan Krakatau Sebelumnya

Puncak Krakatau terletak pada ketinggian 790m dari muka laut. Erupsi pertama diperkirakan pada tahun 416 AD. Letusan gunung api ini menghancurkan gunung api Krakatau dan membentuk kaldera selebar 6.4 km. Kepulauan Verlaten dan Lang adalah sisa-sisa dari pegunungan api yang lebih tua. Selanjutnya, tiga gunung api bersatu untuk membentuk Kepulauan Krakatau.

Letusan moderat Krakatau yang terekam pada masa sejarah adalah letusan yang terjadi antara Mei 1680 dan November 1681.  Letusan ini menghancurkan semua tumbuhan yang ada di pulau dan menghamburkan batu apung dan debu dalam jumlah yang sangat besar ke lautan.

Jadi Krakatau adalah sisa dari pegunungan api tua yang tidak pernah lagi meletus selama 200 tahun. Sebelum  letusan Krakatau tahun 1883, kepulauan Rakata terdiri dari tiga pegunungan  dan tidak kurang dari satu kaldera. Kerucut gunung api sejajar dengan arah Utara-Selatan. Ujung arah utara disebut Poebowetan dan ujung selatan disebut Rakata. Ukuran perkiraan keseluruhan Krakatau adalah 5 km dikali 9 km.

Kronologi Kejadian sebelum Letusan Besar 26 Augustus 1883

Setelah tidak aktif selama hampir 200 tahun, Krakatau aktif lagi sekitar awal 1883. Gempa besar yang terjadi pada daerah sekitar Krakatau menjadi indikasi awal sesuatu telah terjadi di tubuh Krakatau. Aktivitas seismik menjadi lebih kuat pada 21 Mei 1883, ketika gunung api secara tiba-tiba ‘hidup’ lagi. Letusan eksplosif awal terdengar hingga jarak 160 km. Uap dan abu terlihat naik hingga 11 km di atas puncak gunung api. Pada tanggal 12 Augustus 1883 ketiga lubang gunung api secara secara aktif meletus. Sebelas lubang yang lain menghamburkan uap, abu, dan debu dalan jumlah yang lebih kecil.

Ilustrasi letusan awal Krakatau Mei 1883 digambar seorang artis. Source: http://www.geology.sdsu.edu/how_volcanoes_work/Images/Historic/Krak_symmons1888_l.jpg

Sekitar jam 13.00 pada tanggal 27 Augustus 1883, letusan menjadi lebih sering dan terjadi rata-rata setiap 10 menit. Pelaut yang ada di kapal pada jarak 120 km melaporkan awan asap hitam pekat terlihat di atas gunung api. Pada saat itu kawah Krakatau memiliki diameter sekitar 1000 m dengan kedalaman sekitar 50 m. Pusat lubang semburan terhalang oleh sumbatan lava pada dan akibatnya di bawahnya tekanan naik secara cepat.

Erupsi Raksasa

Aktivitas terbaru pada Mei 1883 terkulminasi pada empat letusan maha dahsyat pada tangga 27 dan 28 Augustus 1883. Pada tanggal 27 Augustus  1883 siang sekitar jam 10.07 WIBB, letusan pertama dari empat letusan berbahaya dimulai. Awan abu hitam pekat terlihat pada awalnya. Malam hari pada jam 22.30 dan 23.44  dan di pagi  hari berikutnya, pada tanggal 28 Augustus 1883 pada jam 03.02 WIBB, tiga letusan yang sangat menghancurkan ini terjadi.

Letusan yang terjadi pada jam 03.02 adalah letusan paroksimal, yaitu letusan yang terjadi secara tiba-tiba, yang menghancurkan hampir dua pertiga kepulauan di arah utara. Inilah letusan yang maha dahsyat dan menghancurkan yang pernah terekam di bumi pada masa modern. Letusan ini diikuti oleh runtuhnya ruang vulkanik/magma Krakatau  yang tidak tertopang  yang mengakibatkan timbulnya kaldera bawah laut raksasa.  Letusan inilah dan runtuhan yang diakibatkannya yang memicu terjadinya bencana tsunami dahsyat yang mencapai ketinggian 37 m yang mengakibatkan kerusakan tak terkira di Selat Sunda.

Kejadian Phreatomagnetic.

Letusan paroksimal Krakatau adalah sebuah letusan phreatomagnetik. Air laut masuk ke ruang magma dari gunung api ketika dindingnya mulai runtuh. Panas yang maha tinggi dan uap air panas memicu tekanan yang luar biasa yang pada gilirannya menghasilkan letusan gunung api raksasa. Letusan yang ganas yang menghasilkan gas ini melemparkan abu dengan jumlah yang besar, cinder (material piroklastik), batu apung, dan bongkahan batuan ke langit. Letusan diikuti runtuhnya sisa-sisa vulkanis ke dalam ruang magma yang kosong dan menimbulkan kaldera terendam.

Besar Magnitude Letusan 1883 Krakatau

Letusan Krakatau 1883 dicatat dengan magnitude VEI =6  yang tingkatnya adalah “kolosal”. Untuk bisa dicatat sebagai VEI =6, letusan vulkanik haruslah memiliki semburan dengan tinggi 25 km dan volume material yang dipindahkan berkisar 10-100 km3. Erupsi seperti ini hanya terjadi sekali dalam masa beberapa ratus tahun di bumi.

Jumlah energy yang dilepaskan oleh empat lubang semburan utama pada letusan 1883 ini setara dengan 200 Megaton TNT. Kebanyakan energi  dilepaskan oleh letusan paroksimal ketiga yang diperkirakan setara dengan energi 150 megaton TNT. Bandingkan dengan bom Hiroshima yang ‘hanya’ menghasilkan 20 kiloton TNT.

Jumlah material yang dikeluarkan pada letusan vulkanik diperkirakan sebesar 21 km3. Ketika Krakatau meletus bagian utara kepulauan hancur.

Setelah letusan dan runtuhnya sisa-sisa tak tertopang ke dalam kaldera yang baru terbentuk, hanya sepertiga pulau gunung api yang tersisa di atas air laut. Apa yang tersisa adalah pulau-pulau yang kecil yang menandai kerucut dari gunung api sebelumnya dan beberapa pulau-pulau baru kecil berupa campuran batu apung dan abu vulaknik di sebelah utara. Satu pulau kecil yang terbentuk adalah Anak Krakatau yang ada hingga saat ini.

Anak Krakatau

Dalam laporannya tentang eruspsi ini, seorang ahli bernama Verbeek meramalkan akan terjadinya aktivitas baru di daerah ini dan akan terjadi di antara Perboewatan dan Danan. Ramalan ini menjadi kenyataan pada tanggal 29 Desember 1927. Bukti bahwa telah terjadi erupsi bawah laut terlihat di area ini. Pulau vulkanik baru yang kemudian dinamai Anak Krakatau terlihat di atas permukaan laut beberapa hari kemudian.

Letusan Krakatau Menjadi Kejadian Dunia

Yang membuat Krakatau berbeda dengan kejadian pada abad 19 adalah adanya telegram kabel bawah laut. Ketika Krakatau meletus, stasiun telegram di Batavia (Jakarta saat ini) berhasil mengirim pesan ke Singapura. Dalam beberapa jam berita meletusnya Krakatau telah dibaca di Koran-koran di London, Paris, Boston, dan New York yang menceritakan betapa kolosalnya peristiwa itu.

Harian The New York Times, menulis beberapa jam setelah laporan pertama: “ ledakan yang kuat terdengar kemarin sore dari kepulauaan vulkanik Krakatau. Ledakan ini terdengar di Soerkrata (Sekarang Surakarta), di Pulau Jawa. Abu gunung api jatuh di Cirebon, dan kedipan-kedipan cahaya setelahnya terlihat dari Batavia”.

Catatan di koran tersebut juga menyebutkan batu-batuan berjatuhan dari langit, dan komunikasi dengan kota Anjier (sekarang Anyer) berhenti dan dikhawatirkan bencana dahsyat terjadi di sana. Dua hari kemudian harian ini melaporkan bahwa kawasan pemukiman eropa dihanyutkan oleh pasang yang terjadi.

Source:

About Todung R Siagian

Bapak dari Juan, Mika, dan Jethro. Suami dari Theresia
This entry was posted in Erupsi, Erupsi super and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s