Tsunami

Tsunami berasal dari kata dalam bahasa Jepang yang berarti gelombang pelabuhan. Diwakili dua karakter “tsu” yang berarti pelabuhan, dan “nami” yang berarti gelombang. Di masa lalu tsunami secara umum juga disebut sebagai gelombang pasang, dan oleh masyarakat ilmuwan disebut gelombang gempa laut.

Sebutan gelombang pasang sebenarnya tidak tepat karena pasang timbul akibat gaya gravitasi bulan, matahari, meteorit atau gaya luar angkasa yang menyebabkan ketidakseimbangan pada air laut.

Gelombang gempa laut juga sebutan yang menyesatkan, sebab sebutan tersebut mengindikasikan bahwa gelombang diakibatkan oleh gempa, padahal tsunami bisa saja terjadi akibat kejadian yang bukan gempa, seperti longsor atau tumbukan meteorit.

Bagaimana Tsunami terjadi?

Tsunami dipicu oleh adanya ganggauan yang menyebabkan terpindahnya sejumlah air dari posisi keseimbangannya. Gangguan tersebut dapat diakibatkan oleh gempa, longsor, runtuhnya bongkahan vulkanik, erupsi gunung api bawah laut, dan akibat tumbukan meteor.

Akibat Gempa-gempa bawah Laut.

Tsunami bisa terjadi ketika dasar lautan bergerak  secara tiba-tiba akibat gempa tektonik. Gempa tektonik adalah jenis gempa yang berhubungan dengan pergeseran kulit bumi. Ketika  gempa-gempa tersebut terjadi di bawah laut, air yang berada di atas daerah yang bergerak berpindah dari posisi keseimbangannya. Gelombang akan terbentuk, dan akibat gaya gravitasi, massa air akan berupaya mencapai kesembangannya lagi. Jika sekiranya kejadian tersebut terjadi di dasar laut yang tiba-tiba naik atau turun, tsunami bisa terjadi.

Pergeseran kerak/kulit bumi dasar samudera yang luas dapat terjadi di pertemuan lempeng. Lempeng bertemu di batas yang disebut patahan. Di sekitar pinggiran Samudera Pasifik, sebagai contoh, lempeng samudera yang lebih berat menujam ke bawah lempeng benua dalam proses yang disebut subduksi (penujaman). Gempa besar pada tahun 2004 menimbulkan Tsunami raksasa  yang terjadi dimana lempeng Samudera Hindia menujam lempeng Sumatera.

http://ceeserver.cee.cornell.edu/pll-group/images/earthquake_tsu2_resize.gif

Gambar di atas menunjukkan kulit benua secara pelan-pelan melengkung akibat penujaman lempeng samudera, pada gambar bawah terlihat bagaimana kulit benua terlepas dari kuncian pelengkungan dan bergerak naik sehingga memindahkan sejumlah massa air, dan merupakan sumber tsunami. (gambar dari Nature online)

sumber: http://www.gitews.org/fileadmin/documents/content/press/Sumatra-20041226-Tsunami-by-Subduction-engl.jpg

Gambar di atas menunjukkan sketsa proses tsunami pada saat Gempa Sumatera pada tahun 2004.

Contact your instructor if you are unable to see or interpret this graphic.

Sumber gambar: PennState: College of Earth and Mineral Sciences: https://www.e-education.psu.edu/earth501/content/p2_p3.html

Gambar di atas menunjukkan sketsa tiga dimensi proses terjadi tsunami akibat proses gempa subduksi. Perhatikan, akibat terus menujamnya lempeng samudera ke bawah lempeng benua (gambar kiri), pada tempat tertentu penujaman terkunci (stuck) dan mengakibatkan lempeng benua melengkung dan semakin melengkung (gambar tengah). Jika penujaman terus berlangsung maka kuncian bisa saja terlepas (unstuck) akibat energi pelengkungan yang semakin besar. Jika ‘kuncian’ tersebut terlepas, gempa terjadi, diman lempeng benua akan kembali ke posisi seperti awal (gbr kanan). Akibatnya air di daerah tersebut akan terangkat dan mengakibatkan gelombang yang disebut tsunami.

Akibat longsor bawah laut, dan tumbukan volkanik atau meteorit.

Longsor bawah laut, yang sering diiringi gempa-gempa kuat, seperti juga runtuhnya bongkahan vulkanik, pada saat sedimen dan timbunan batuan longsor, dapat juga mengganggu keseimbangan air yang di atasnya dimana terjadi proses redistribusi air di dasar laut  untuk mendapatkan keseimbangan level air yang baru. Dengan cara yang sama, letusan gunung api di bawah laut dapat mengangkat permukaan air yang menimbulkan tsunami. Bisa juga longsor gunung di atas laut dan tumbukan benda langit terhadap air mengakibatkan tunami ketika tumbukan pecahan-pecahannya memindahkan momentum tumbukan ke air. Tidak seperti tsunami yang diakibatkan gempa, secara umum tsunami yang terjadi akibat mekanisme ini sangat cepat menyalurkan energi dan sangat jarang mempengaruhi tepi pantai yang jauh dari tempat kejadian.

sumber:

  • Cornell University Civil and Enviromental Engineering: http://ceeserver.cee.cornell.edu/pll-group/t2generation.html
  • PennState: College of Earth and Mineral Sciences: https://www.e-education.psu.edu/earth501/content/p2_p3.html
  • Earth Science Australia: http://earthsci.org/education/teacher/basicgeol/tsumami/tsunami.html
  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s